Sunday, January 1, 2017

Memaknai Nama

Pernahkah kamu merasa sebel dengan namamu?

Saya pernah. Waktu itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Badan saya terhitung besar. Ginak ginuk kaya bengkoang bulet gede yang dijual di pasar. Intinya sih badan saya lebih gede, besar dan tinggi daripada kawan seumuran saya. Baik yang cowo maupun cewe.

Udah gak bisa lari cepet karena keberatan lemak, ngisi kolom nama di kertas ujian juga lumayan lama daaaannn kolomnya ga muat. Karena kalau dihitung, saya memerlukan 30 kolom huruf. Tapi saya jago senam lantai lho walaupun gendut. Asal gak cari masalah aja sama saya, pasti gak akan saya pukul. Kelebihannya anak gendut, kalau dinakalin temennya bisa bales mukul, yang dipukul pasti kesakitan. Padahal tenaga yang dikeluarin gak seberapa.

Sudah tentu saya dipanggil dengan julukan gembrot, gendut dan sebagainya. Belum lagi nama saya ada “Shinta”nya. Kalian ingat, jaman 99an ada serial televisi yang judulnya “Wiro Sableng”. Serialnya diputer di RCTI jam 12 siang. Pendekar berbaju putih yang selalu memakai ikat kepala, dengan senjata kapak nagageni 212. Wiro Sableng ini punya guru. Gurunya bernama Sinto Gendeng. Yak betul. Nama saya dipelintir jadi “Sinto Gendeng”. Resek!


Satu lagi. Kalau ini bertahan sampai sekarang. Menurut saya, beberapa nama itu berjenis kelamin. Salah satunya nama saya. Galih itu berjenis kelamin laki-laki. Jadi sampai sekarang, saya akrab dengan sapaan Mas, Bang, Bung, Kang dan Bapak.

Nama saya kan panjang ya. Adalah empat kosakata. Kata ibunya temen saya, badan saya yang gendut ini karena keberatan nama.

Pulang sekolah, ngadulah saya sama ibu. Ibu saya cuma bisa ketawa. Dibilangnya ya iyalah saya gendut, kalau malem sebelum tidurnya makan terus. Bukan karena saya keberatan nama juga.

Gituuu terus. Selama esde, saya selalu dipanggil dengan julukan kaya gitu. Bete iya. Zebeeeelll. Dan kalau udah dikatain, saya pasti ngelawan balik sama yang ngatain. Peduli sama badannya gede atau kecil, senior atau junior, langsung lawan balik. Tapi tetep dikatain -___-

Paling engga yang ngatain saya itu pukul sampai nangis. Lah dibales malah nangis. Gitu tuh kalau nakal tapi gak mau terima konsekuensinya. Beraninya ngadu sama bu guru. Nakal tapi ga siap, jadinya baper.

Udah udah

Sampai akhirnya saya sadar kalau nama pemberian orangtua saya itu bagus banget. At least saya ga dipanggil runtah. Jadi saya main ke rumah temen suatu siang sepulang sekolah. Di deket rumah kawan saya itu ada nenek-nenek tua. Nenek-nenek ya tualah. Nenek itu bernama RUNTAH. Kalau di bahasa indonesiakan artinya sampah.

Saya gak habis pikir, di dunia ini ada orang bernama runtah. Literally runtah.

*

Cerita soal anak yang malu sama namanya sendiri, juga dialami oleh Om Bud. Budiman Hakim, pengarang buku Lanturan Tapi Relevan, ini pernah punya kasus yang sama dengan saya.  
Rupanya Om Bud pernah malu dengan namanya, karena kurang k barat-baratan. Hihihi

Katanya nama Budiman Hakim gak asyik. Pasaran. Dari Budiman dijadiin Paiman atau Maman. Ada juga yang manggil Bu Diman. Bahkan Mang Diman.

Sampai akhirnya ada peristiwa kecil yang mengangkat proses pendewasaannya. Seorang kawannya ngomong kalau namanya itu perpaduan yang bagus.  Katanya sebuah nama itu harus dilihat secara lengkap. Kalau dipilah-pilah emang gak asik. Contoh, nama Ratna Sari Dwi. Kesan yang didapat adalah seorang perempuan berkepribadian kuat, anggun, feminim sekaligus berwibawa.

*

Saya Galih Prabashinta Putri Pramudita.
Saya menyukai nama saya.
Maturnuwun bapak ibu.