Friday, August 21, 2015

Main-main di Gua Tanpa Stalagnit





Saat mendengar gua, kita pasti akan membayangkan lorong panjang, dingin, gelap di dalam tanah, ketika mendongak ke atas penuh dengan stalagnit dan stalagmit runcing bagaikan tetes air hujan. Namun, saat saya datang, gua ini jelas bersih bagian atasnya tanpa stalagnit dan stalagmit. Kok bisa?

Saya dan partner, berangkat dari Purwokerto pukul 7 pagi. Sampai di lokasi sekitar pukul 8 pagi. Kami memutar kebun strawberry di desa Serang karena jaraknya lebih dekat. Jalur lainnya bisa lewat jalan yang mau ke daerah Pemalang. Karena letaknya di lereng sebelah timur Gunung Slamet maka hawa sejuk menyambut kami disini.
 
tanpa stalagnit dan stalagmit
Mengapa gua Lawa tidak memiliki stalagnit dan stalagmit?

Gua Lawa termasuk gua vulkanik. Artinya, terbentuk dari lava pegunungan yang meleleh. Kemudian mengalami pendinginan berjuta-juta tahun silam. Proses ini yang membuat gua Lawa tidak memiliki stalagnit dan stalagmit. 
Lawa raksasa di pintu gua
Memasuki gua yang pintu masuknya dijaga oleh seekor lawa (kelelawar) raksasa, kami kemudian turun ke bawah. Tidak usah takut licin karena sudah ada tangga dan di samping kanan telah dipasang tangga warna-warni.
Setelah pintu masuk gua, kami disambut Batu Semar dan replika lawa raksasa yang dipasangi lampu sebagai trademark gua lawa. Batu Semar ini  jika dilihat menyerupai Semar, salah satu Punakawan. 

Melewati jalan yang lebarnya satu meter, di sebelah kiri sendang Waringin Seto dengan airnya yang dingin menyambut kita. Kemudian melewati kelokan pertama ada komplek Istana Lawa yang berupa ruang agak lebar. Jalan yang kami lalui tidak licin, karena lantainya sudah diplester. 

Kemudian naik dua anak tangga, ada gua dada lawa. Di pintu masuk gua ini lantainya masih basah dan liat, namun di dalamnya ada kolam yang airnya (katanya) tidak pernah kering. Setelah gua dada lawa, lokasi berikutnya lumayan luas karena ada tiga spot disitu. Sendang Derajat dan dua lekukan di samping sendang. Daerah Jawa Tengah pada bulan ini mengalami kekeringan, mungkin ini ada efeknya ke aliran air di gua ini. Karena sendang-sendang dalam gua ini, debit airnya tidak banyak seperti biasanya. Air dalam Sendang Derajat ini boleh diambil karena sudah disediakan gayung. Jangan heran kalau menemukan kelopak bunga ada di dalam air sendang. Terlepas dari itu air dalam sendang ini sejuknya bukan main. Segar. 
 
Sendang Derajat
Gangsiran Bupati Goentoer Darjono, berupa aula luas di dalam gua ini jadi spot selanjutnya. Cahaya yang masuk di tengah aula bisa ditemukan sekitar pukul 9, ketika matahari belum berada di atas kepala. Dinamai Goentoer Darjono karen gua ini diresmikan oleh bupati Purbalingga saat itu. Setelah aula ini, selanjutnya ada Lorong Panembahan.

Masuk lebih ke dalam, kita akan menemukan sendang lagi di sebelah kiri. Dalamnya kurang lebih 1,5 meter. Naik ke atas kita akan menemukan batu yang berbentuk seperti keris. Kemudian setelah melewati pintu kecil, ada gua Langgar. Langgar oleh masyarakat Jawa biasanya merupakan tempat berukuran kecil untuk bersembahyang. Tempatnya tidak seluas mushola, namun cukup untuk menampung beberapa orang.
 
ini kunjungan pertama sekitar awal 2015, sekarang kolam kering
Turun dari gua Langgar, kita akan melewati jembatan kecil yang berada di tengah kolam luas di tengah-tengah gua. Kedalaman kolam ini sekitar dua meter. Sayangnya ketika kami datang, kolam ini hampir kering. Jika lewat jembatan di atas kolam ini ketika penuh, ada sensasi horor. Saya membayangkan ketika lewat, tiba-tiba ada makhluk air serupa duyung yang keluar. 
 
partner hidup *uhuk* di gua setelah jalan penghubung
Melewati jembatan kemudian kami naik ke atas. Disini terlihat seperti pintu keluar. Namun ini merupakan jalan penghubung dengan gua selanjutnya. Setelah jalan sambungan ini, gua berikutnya lebih kecil dan cahaya matahari yang masuk ke dalamnya lebih banyak daripada gua utama. 

Ini merupakan kali kedua saya datang ke gua Lawa. Gua sepanjang 1,5 km ini berada di desa Siwarak Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Tiket masuknya relatif murah, Rp 15.000 untuk dua orang dewasa. 

Selain gua Lawa, juga ada Gua Lorong Kereta. Gua ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin caving karena gua ini masih belum tersentuh penambahan jalan untuk mempermudah pengunjung. Berbentuk seperti gerbong kereta. Harus didampingi pemandu dan peralatan standar karena medannya yang bervariasi lorong sempit, berair, dan berlumpur. 
zoom kepala sebelah kiri, oke mungkin itu kepala dikira makanan jadi ditemplokin ulet :(
Area yang luas dan rindang juga objek wisata ini juga tersedia area playground bagi anak-anak juga area camping. Tapi, hati-hati dengan ulat dari pohon-pohon di sekitarnya. Gede banget. Sebelum pulang, sempat ada satu ulat yang nemplok di kepala saya.

Yang ingin merasakan sepenggal Gua Lawa, ada di video ini:

Purwokerto, malem sebelum jalan-jalan lagi
Galih

Tuesday, July 7, 2015

(RANDOM) FIRST HELLO



Halo yorobun.. 

Gimana kabar? Puasa? Udah batal berapa kali? Traweh terus kan? Apa *deketin kuping* traweh supaya bisa mencintai tempat ijab qobul kita nanti? *eaaaa. 

Kenalin ini blog kita, Tila dan Galih. Iya telat. Abis tujuh postingan, malah baru bikin perkenalan. Lanjut, blog ini lahir bertepatan dengan bulan puasa 1436 H di Juni 2015. Bismillah. Kayak yang tila bilang, blog ini dibikin semisal kita berdua eL De eR an, masih inget satu sama lain, masih tetep koplok bareng, ga usah jaim-jaiman, bebas toyor toyoran kepala. Tempat dimana kita berdua nulis kenangan, napsu makan, napsu nonton, napsu dandan, napsu jalan sama napsu sama mas Channing Tatum *eh


Kenalin dulu, saya Galih. Nama lengkap Galih Prabashinta Putri Pramudita. Panggil aja Mas Dono. Saya sama Tila ketemu waktu kuliah.

terus comeback gini. aku kudu pie mas..
Saya ga baper sama idol, tapi baper banget sama Joon Jong Young. Udah bisa bedain mana yang profesional dan mana yang personal. Udah gak ngikutin diri di semua drama dan fanwar, gak kaya dulu. Tapi masih bikin fanficnya JoonYoung sebelum tidur. *gapapa, ini ampuh banget buat penyemangat hati yang lagi rapuh. Gunanya jadi international fan tuh gini*


First impression Tila, dia susah dideketin. Ibarat idol baru yang lagi nunggu lift abis ngisi di Music Bank terus di dalem lift malah udah ada Hyuna 4Minute sama Gain BEG. Kan susah noh. Begitu liat namanya di daftar absen, "Seriusan namanya Tila? Kalo manggil gimana ya?Mau tiga huruf paling depan lho kok ya ga tega?" Tidak bermaksud untuk rasis atau gimana. Ceritanya saya sedang memposisikan diri sebagai orang awam.

Saya anak dengan darah O yang sudah terpapar banyak sifat B. Bangor banget. Buat saya Tila anaknya itu kya-kya-kyowo gitu. Saya sreg aja kalo jalan sama dia. Sering kaya kakak sendiri. Orang yang sering rapuh hatinya namun gak pernah rapuh buat ibunya. Aura eonni-nya lebih keliatan. Buat referensi coba liat Xiumin di MV Gone-nya Jin Lovelyz. Dia lebih dewasa, daripada saya. Disaat yang sama terlihat sangat menyenangkan dan lucu. Kalo yang suka nonton drama, tipe-tipe second male lead.

Semoga kita bisa ketemu mas Channing Tatum sebelum masing-masing nikah.

OK. Setelah sahabat saya berbusa-busa mulutnya, sekarang giliran saya yg kenalan. Hai ladies and gentlemen, perkenalkan saya pemilik blog ini jugaaa.. kita berbagi tempat dalam satu blog biar rame. Nama saya Tiladela Luhita. Susah? Iya maaf susah. Ayah saya emang gak suka sesuatu yang terlalu mainstream. Saya biasa dipanggil Tila. And I’m ok if you want to call me with my first three alphabets, as long as you are comfortable with it, but fyi most of my GOOD friends call me “La”.

Mas dono baru kenalan uda ngomongin berat sama tinggi badan ajaaa.. sayaaa, pas aja deh pemirsah soal tinggi apa lagi berat badan. Soalnya saya tumbuh ke samping. 

Saya anak pertama dari dua bersaudara, jadi saya terbiasa pada posisi mendominasi. Tanya galih, klo kita rebutan kue cubit sapa yg menang! Emmm, saya dari kaum bergolongan darah A. Orang bilang golongan darah A adalah orang-orang dengan tingkat keteraturan tinggi. Sebenarnya saya gak gila keteraturan, tapi klo Galih ngapa-ngapainnya gak rapi kadang saya pengen ambil bakiak masjid terus aku pletakin. 

Sama kaya Galih, saya suka Kpop, tapi gak pada level saya harus follow semua akun SNS idol, baca fanfic mereka, ato berteriak “opppaaaaaa..” sambil ndusel-ndusel layar ketika idola muncul d tv, saya dalam batasan wajar. Saya lebih suka dengerin lagu-lagu western, dan saya amat sangat buta tentang music Indonesia, seriusan.

Pertama ketemu Galih ituuu sekitar 7 tahun yang lalu waktu semester pertama kuliah. Entah gimana ceritanya kita jadi seakrab gini. Dulu pun waktu kuliah sebenernya banyak temen kita yang sering ngumpul bareng, tapi makin kesini makin pada menghilang. Entah itu menghilang karena lulus kemudian balik ke kota masing-masing, menghilang karena uda sibuk kerja, ato menghilang karena belum lulus juga sampe sekarang.. iya sampe sekarang. Galih hampir saja jadi jenis yang terkakhir.

Sebenernya kita berdua pun sama-sama sibuk. Saya sibuk ngajar, Galih sibuk liputan. Tapi kerjaan kita gak kaya orang kantoran pada umumnya, itulah kenapa kita masih bisaaaa aja main bareng, karena kita gak kerja dari jam 8 pagi sampe jam 5 sore. Kita masih bisa brunch jam 10 pagiii, nonton jam 1 siang, dan kita masih bisa ngopi-ngopi jam 4 sore, walaupun gak setiap hari. 

For me, having Galih in my life means a lot. Tapi terkadang bergaul sama Galih hanya menyediakan dua pilihan buat saya, hitam dan putih, there is no in between. Yang pertama dia seseorang yang pengen saya peluk semaleman, dan yang kedua dia seseorang yang entah berapa puluh ribu kali sudah saya keplak dalam pikiran saya. Untung saya sabar. Thanks to Galih sudah mengajariku bersabar.

Selera laki-laki kami hampir sama, seseorang yang mukanya dan badannya kaya Channing Tatum. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, gak ada dari kita yang ngedapetin yang agak-agak mirip beliau. Galih rejekinya dapet pacar yang kurus tinggi dan gondrong, dan saya rejekinya yang mirip-mirip Baymax, ndusel-able dan hug-able. Mungkin tidak ada jatah lelaki sixpack buat kita, selain Channing Tatum.

Yeah kita termasuk movie goers, movie lovers, movie freak, atau apapun istilahnya. Tapi selera film kita agak beda. Galih lebih suka nonton film yang antimainstream dan horor, sejenis Human Centipede atau apalah itu. Dan saya tipe-tipe romcom person dengan sedikit sci-fi dan action. That’s why setiap kali saya mengiyakan ajakan Galih nonton horror, a part of me is crying. And every second with horror movie feels like hell for me. Galih, thanks!

Mungkin saya cukupkan saja perkenalan kali ini. Kedepannya kita akan lebih mengenal melalui tulisan-tulisan kami yang (semoga) informative dan menghibur seputar jalan-jalan, jajan, dan dandan. Jangan pernah sungkan untuk membaca, berkomentar, atau sekedar berkunjung. See you guys!

Salam

Saturday, July 4, 2015

Tangannya Jangan Jahil, Dong!



Gimana perasannya liat foto di atas?  
Sebel, empet, enek. Foto di atas saya ambil ketika mengunjungi objek wisata Benteng Pendem di Kabupaten Cilacap.  Ruangan di atas adalah terowongan yang digunakan di zaman Belanda. 

Oke, saya mau cerita dulu. Saya (Galih) dan Asta main kesana sekitar akhir tahun kemarin. Benteng Pendem digunakan sebagai zona pertahanan militer Belanda di wilayah selatan Pulau Jawa sampai tahun 1942. Benteng deket Teluk Penyu ini dibangun sejak tahun 1861 hingga 1879. Berhadap-hadapan dengan Alcatraznya pulau Jawa yaitu Nusakambangan. 


Kata petugas yang kita temui, penggalian benteng ini dilakukan tahun 1986. Di dalamnya banyak ruangan seperti barak, benteng pertahanan, klinik, penjara, gudang senjata, gudang mesiu, dapur, ruang perwira dan ruang peluru. Namanya “pendem” yang artinya terpendam mungkin karena bangunan ini berada di dalam tanah sedalam 3,5 m. Orang Belanda nyebutnya Kustbatterij op de Landtong te Cilacap atau benteng yang ada di atas tanah dan menjorok ke laut seperti lidah. 

Setelah bayar karcis, beuuuuuuh gede banget. Luaaaaas. Sekitar 6,5 hektar bok. Tiba-tiba dejavu kayak nonton film Sound of Music. Kita disambut kali. Eh bukan, mosok di dalem benteng ada kali. Parit namanya, sekitar 3 meter dalamnya. Di dekat parit ada taman bermain lengkap dengan ayunan, jungkat jungkit dan patung-patung dinosaurus. 
 
And I know you’re jealous staring at my happy face
Melewati taman, ruang barak menyambut saya. Horor, iya. Barak ini berderet panjang, dingin, lembab dan khas bau bangunan lama. Kata petugas pemandu, satu ruangan bisa menampung sekitar 30 orang. Lantainya dari semen dan tanpa pintu. 
Ruang Barak
Dari barak, jalan lurus kemudian ketemu kayak dua peluru gede jejeran. Ternyata itu pintu gerbang utama. Zaman dulu katanya menghadap laut gitu. Sekarang hadap-hadapan sama gedung Pertamina. Di situ ada meriam raksasa.  Kenang-kenangan dari tentara marinir Indonesia waktu latihan perang. Di kanan, ada tempat untuk mengintai musuh. Di kiri ada terowongan. Panjangnya sekitar 50 meter. Tapi kerendem air waktu kita kesana. Fungsinya sebagai tempat pengiriman senjata dan penyelamatan tentara Belanda melalui bawah tanah menuju laut. Juga  ada ruang penjara untuk mengeksekusi tahanan. Keliatan banget horornya. 
 
Tampak samping gerbang utama. Dulu gerbang ini menghadap laut, sekarang hadap-hadapan sama gedung Pertamina

Maafken foto yang jelek ini.

Bagian dari terowongan. Kelihatan kalau lagi kerendem air.

Tampak dalam terowongan

Kalau ini depannya
Terus ada rangkaian bangunan. Tiga ruang penjara, satu ruang senjata. Yang ini juga horor banget. Saya ngga berani masuk. Mau foto di depannya juga merinding gitu. kalau nggak salah di tivi pernah ada acara uji nyali gitu di sini. 

Deretan ruang penjara dan amunisi
Pak petugas cerita kalau di dalam penjara ada lingkar besi yang menempel dinding. Gunanya untuk memborgol tahanan dengan posisi tangan terbentang, atau bahkan lebih ekstrim lagi dengan kaki terbentang pula. Terus ruang penjara ini dilengkapi sistim pendingin dengan cara direndam. 
Jalan naik ke atas
Di depan ruang penjara itu ada gundukan. Pas kita naik, widih pemandangannya bagus. Disitu ada satu benteng yang dibangun Jepang. Kan tadi udah cerita kalau tahun 1942 Jepang mengambil alih posisi Belanda. Benteng baru dari Jepang ini dipakai jadi tempat perlindungan tentara. Di dalamnya ada 7 ruang. Yang terlihat dari atas adalah sebuah lubang besi yang berfungsi sebagai tempat ventilasi, terletak tegak lurus sekitar 3 m ke bawah tanah.
 
Asta lagi turun dari landasan meriam



Landasan meriam
Ada beberapa ruang yang dipakai sebagai klinik. Juga di seberang klinik ada tanah kosong yang kini dipakai sebagai taman. Disini ada beberapa rombongan ibu dan anak. Naik ke atas ada makan tua di bawah pohon. Konon ceritanya (horor amat) makam itu milik Sekar Wulung dan Ibu Nyai Sekar Jagad yang merupakan tokoh penyebar agama Islam bercampur Kejawen.

Taman depan ruang klinik

Balik ke awal, di terowongan sebelah kiri pintu utama tadi, banyak sekali coretan nggak penting. Entah siapa yang nyoret. Semisal itu tulisan orang Belanda jaman dahulu juga nggak mungkin. 
Iiih gemeeees banget sama yang coret-coret begitu. Ini tulisannya udah asal-asalan, nggak ada seninya, nggak memicu pemikiran di kepala orang yang melihatnya dan DI TEMPAT YANG SALAH. Benteng Pendem ini kan tempat wisata bersejarah, yang bisa jadi pengingat generasi sekarang bahwa bangsa ini pernah dijajah juga sebagai saksi perjuangan. Coret-coretan nggak penting ini harus dapat tindakan yang jelas. 
Ketika saya ke Curug Cipendok, juga menemukan tulisan alay macam ini.
 
yaelah, kalo situ suka sama orang si ngomong aja kali. Gak usah nulis nulis di batu. Kita bodo amat sama kisah cinta kalian tapi ini nulis di objek wisata dimana orang lain juga punya HAK untuk menikmati tanpa diganggu pemandangan macam ini.
Pak Pemandu juga sudah pusing bukan kepalang sama tangan-tangan jahil ini. Kami sempat mengusulkan agar setiap pengunjung yang masuk diperiksa tasnya dan dicatat apa yang mereka bawa. Juga pengunjung mengisi data-data juga nomor hape. Tujuannya minimal buat mencegah aksi corat coret macam itu. 
Pak Petugas juga mengiyakan. “Inginnya begitu mba, di loket harusnya ada meja pemeriksaan. Nggak Cuma disini ya, tapi di semua objek wisata,” ucapnya. 

Dua petugas yang kami lupa namanya :D
Dia juga menambahkan, meski objek wisata ini juga dicari keuntungan. Tapi juga semua yang terlibat baik petugas dan pengunjung juga WAJIB menjaga kebersihan, tanpa corat coret. Setidaknya ada batasan orang yang datang tiap harinya. Bukannya mencegah orang berkunjung, tapi akan lebih menyenangkan jika masyarakat juga belajar antre dan sabar. 
Korelasinya gini, pacar yang bersih, wangi, perhatian dan ramah pasti bikin lebih cinta (pacar mana pacaaar). Ketimbang pacar yang slengean, cuek, sembarangan, gak perhatian dan susah kalo diomongin. Atau coba bandingkan dalam satu waktu ada 2000 orang yang berkunjung dalam waktu yang bersamaan, masalah sampah dan corat coret akan lebih sulit dicegah. Jumlah petugas yang berpatroli nggak sebanding dengan pengunjung yang datang. Atau dalam satu waktu dibatasi 200 orang yang datang. Petugas akan lebih mudah mendata dan mengawasi. Satu petugas tidak kelabakan mengawasi beberapa orang. Tentunya jalan-jalan dan belajar di tempat wisata bersejarah akan lebih nyaman. Karena bersih dan nyaman, masyarakat kan datang dan datang lagi. Otomatis tanpa harus disuruh, karena sudah bersih dan nyaman, orang-orang yang jahil akan sungkan untuk mengotori lagi. 

Huft... maaf ya jadi emosi nulisnya. Anyway meski tulisan ini saya ikutkan dalam lomba blog Visit Jawa Tengah 2015, semoga vandalisme tidak terulang lagi. Dimanapun dan kapanpun. Tengkyu gaes,, happy reading.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 1 Juni - 4 Juli 2015 dengan tema Cinta (Wisata) Jawa Tengah
Banyumas, 4 Juli 2015